Kamis, 01 Juni 2017

Arjuna Tumbal



Kisah ini menceritakan tentang Raden Arjuna yang hendak dijadikan tumbal oleh Prabu Suryaasmara, raja Parangkencana. Juga diceritakan kelahiran dua putra Raden Arjuna, yaitu Raden Sumitra dan Raden Bratalaras, serta awal mula Raden Arjuna bertemu Endang Pamegatsih, yang kelak melahirkan Bambang Pamegattresna.

Kisah ini saya olah dari sumber Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) yang disusun oleh Ki Tristuti Suryasaputra, dengan perubahan dan pengembangan seperlunya.

Kediri, 1 Juni 2017

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini

------------------------------ ooo ------------------------------

Raden Arjuna.

PRABU KRESNA DAN PRABU BALADEWA HENDAK MENGUNJUNGI KESATRIAN MADUKARA

Di Kerajaan Dwarawati, Prabu Kresna Wasudewa dihadap Raden Samba Wisnubrata (putra mahkota), Arya Setyaki (adik ipar), dan juga Patih Udawa. Hadir pula sang kakak dari Kerajaan Mandura, yaitu Prabu Baladewa. Dalam pertemuan itu mereka membahas tentang undangan dari Kesatrian Madukara di Kerajaan Amarta, bahwa Raden Arjuna hendak mengadakan upacara siraman untuk kedua istrinya yang sama-sama mengandung usia tujuh bulan, yaitu Dewi Sulastri dan Niken Larasati.

Prabu Baladewa yang juga mendapat undangan berniat mengajak Prabu Kresna berangkat bersama. Prabu Kresna bersedia dan mengajak Arya Setyaki ikut mengawal kepergian mereka, serta memerintahkan Patih Udawa dan Raden Samba agar tetap tinggal menjaga istana. Patih Udawa memohon agar diizinkan ikut serta, karena Niken Larasati adalah adiknya. Bagaimanapun juga ia ingin menghadiri upacara siraman bagi adiknya tersebut di Kesatrian Madukara.

Prabu Kresna memaklumi dan mengabulkan permintaan Patih Udawa. Setelah dirasa cukup, ia pun membubarkan pertemuan untuk kemudian berangkat bersama-sama dengan Prabu Baladewa menuju Kesatrian Madukara di Kerajaan Amarta.

Prabu Kresna Wasudewa.

PRABU SURYAASMARA HENDAK MENUMBALKAN RADEN ARJUNA

Tersebutlah seorang raja muda dan tampan bernama Prabu Suryaasmara dari Kerajaan Parangkencana. Saat itu ia sedang memikirkan negaranya yang dilanda wabah penyakit dan menewaskan sejumlah penduduk. Prabu Suryaasmara pun meminta petunjuk kepada gurunya yang bernama Resi Indrajala untuk mengatasi musibah ini. Setelah mengheningkan cipta, Resi Indrajala mendapatkan petunjuk dari dewa, bahwa Kerajaan Parangkencana dapat terbebas dari wabah penyakit apabila ditumbali darah kesatria Panengah Pandawa yang bernama Raden Arjuna.

Prabu Suryaasmara merasa bimbang mendengar ramalan tersebut. Namun, karena tidak tega melihat rakyatnya yang pagi jatuh sakit, sore meninggal dunia, atau sore jatuh sakit, pagi meninggal dunia, ia pun terpaksa menerima saran ini. Prabu Suryaasmara lalu memanggil patihnya yang berwujud raksasa, bernama Patih Kalagambira untuk menghadirkan Raden Arjuna ke Kerajaan Parangkencana.

Setelah menerima penjelasan dengan seksama, Patih Kalagambira segera mohon pamit kepada Prabu Suryaasmara dan Resi Indrajala. Ia kemudian berangkat dengan membawa pasukan secukupnya menuju Kerajaan Amarta.

Prabu Suryaasmara.

PASUKAN PARANGKENCANA BENTROK DENGAN PASUKAN DWARAWATI

Patih Kalagambira dan pasukannya telah berangkat meninggalkan Kerajaan Parangkencana. Di tengah jalan mereka bertemu rombongan dari Kerajaan Dwarawati yang dipimpin Arya Setyaki dan Patih Udawa di garis depan. Setelah mengetahui Patih Kalagambira memiliki niat buruk terhadap Raden Arjuna, segera Arya Setyaki dan Patih Udawa berusaha menghalangi. Akibatnya, terjadilah pertempuran antara pasukan Dwarawati melawan pasukan Parangkencana tersebut.

Patih Kalagambira terdesak menghadapi kesaktian orang-orang Dwarawati. Pasukannya pun berantakan. Terpaksa ia memerintahkan para prajurit yang masih hidup untuk mundur. Karena sudah menyanggupi perintah dari rajanya, mau tidak mau Patih Kalagambira pun berangkat seorang diri menuju Kerajaan Amarta untuk menculik Raden Arjuna.

Patih Udawa.

UPACARA SIRAMAN DEWI SULASTRI DAN NIKEN LARASATI

Di Kesatrian Madukara, Raden Arjuna menerima kunjungan para saudara, yaitu Prabu Puntadewa, Arya Wrekodara, Raden Nakula, dan Raden Sadewa. Rombongan dari Kerajaan Dwarawati, yaitu Prabu Kresna, Prabu Baladewa, Arya Setyaki, dan Patih Udawa juga telah tiba di sana dan mengucapkan selamat.

Sesuai agenda yang telah disusun, Raden Arjuna pun memulai upacara siraman untuk kedua istri, yaitu Dewi Sumitra dan Niken Larasati yang sama-sama mengandung. Setelah upacara selesai, Prabu Kresna berpesan agar Raden Arjuna jangan sampai lengah, karena ia mendapat firasat akan terjadi sesuatu yang buruk di Kesatrian Madukara. Hal ini berkaitan dengan apa yang baru saja dialami rombongan dari Dwarawati, yang bentrok melawan pasukan Parangkencana.

Prabu Baladewa.

PATIH KALAGAMBIRA MENCULIK RADEN ARJUNA

Malam harinya, Patih Kalagambira menyusup masuk ke dalam Kesatrian Madukara dengan mengerahkan Aji Panglimunan, sehingga tidak ada seorang pun yang mampu melihat kedatangannya. Ia juga mengerahkan Aji Sirep, sehingga seluruh penghuni Kesatrian Madukara tertidur lelap. Patih Kalagambira berhasil menemukan kamar tidur Raden Arjuna dan segera menyambar pangeran tersebut untuk dibawa pergi.

Patih Kalagambira sudah berlari sangat jauh sambil menggendong Raden Arjuna. Tiba-tiba Raden Arjuna terbangun dari tidur dan langsung menendang kepala penculiknya itu. Patih Kalagambira terkejut dan melepaskan pangeran tersebut. Keduanya lalu berhadap-hadapan hendak bertarung. Raden Arjuna lebih dulu bertanya mengapa dirinya diculik dan hendak dibawa ke mana. Patih Kalagambira menjawab ia mengemban tugas dari rajanya yang bernama Prabu Suryaasmara, yang ingin membebaskan Kerajaan Parangkencana dari wabah penyakit dengan cara menyembelih Raden Arjuna dan mengalirkan darahnya di sana.

Tentu saja Raden Arjuna menolak dirinya hendak dijadikan tumbal. Patih Kalagambira pun berusaha meringkusnya dengan jalan kekerasan. Mereka lalu bertarung satu lawan satu di tempat sepi tersebut. Patih Kalagambira sebenarnya tidak mampu mengalahkan kesaktian Raden Arjuna, tetapi ia sudah bertekad bulat hendak membawa pangeran ini ke hadapan rajanya.

Setelah bertarung cukup lama, Raden Arjuna akhirnya dapat merobohkan Patih Kalagambira. Namun, menjelang ajal tiba, Patih Kalagambira sempat bangkit kembali dan menggigit pundak Raden Arjuna. Keduanya lalu sama-sama roboh. Patih Kalagambira tewas kehilangan nyawa, sedangkan Raden Arjuna pingsan karena terkena racun pada gigi taring lawan.

Patih Kalagambira.

RADEN ARJUNA DIRAWAT RESI PAMINTAJATI DAN ENDANG PAMEGATSIH

Tidak lama kemudian di tempat itu tiba-tiba muncul seorang pendeta bernama Resi Pamintajati. Pendeta ini sebenarnya hendak pergi ke Kesatrian Madukara untuk memenuhi permohonan putrinya. Melihat Raden Arjuna tergeletak di tanah dan memiliki ciri-ciri sesuai dengan penjelasan putrinya, ia pun segera membalut luka pangeran itu. Setelah darah tidak lagi keluar, Resi Pamintajati pun menggendong tubuh Raden Arjuna dan membawanya pulang ke Padepokan Argabinatur yang terletak di wilayah Kadipaten Tunggarana.

Sesampainya di sana, Resi Pamintajati disambut putrinya yang bernama Endang Pamegatsih. Sang putri terkejut melihat pangeran impiannya sedang pingsan karena terluka. Rupa-rupanya tadi malam Endang Pamegatsih mimpi menjadi istri Raden Arjuna dan ketika bangun ia merengek kepada ayahnya supaya dipertemukan dengan pangeran tampan tersebut. Resi Pamintajati menjelaskan bahwa menurut kabar yang beredar, Raden Arjuna sudah memiliki banyak istri. Namun, Endang Pamegatsih tidak peduli karena ia bersedia meskipun dijadikan istri paminggir. Resi Pamintajati yang sangat menyayangi putrinya tidak kuasa menolak dan memutuskan untuk berangkat mencari Raden Arjuna. Namun, belum sampai di Kesatrian Madukara ia sudah menemukan pangeran tersebut tergeletak pingsan setelah bertarung melawan Patih Kalagambira.

Endang Pamegatsih meminta sang ayah agar mengobati Raden Arjuna. Resi Pamintajati bersedia dan segera melaksanakan keinginan putrinya. Rupa-rupanya gigi taring Patih Kalagambira mengandung racun ganas dan Resi Pamintajati harus membuat ramuan obat untuk menawarkan pengaruh racun tersebut. Setelah dirawat tiga hari, barulah Raden Arjuna sadar dari pingsan tetapi kekuatannya belum pulih.

Endang Pamegatsih setiap hari merawat dan melayani keperluan Raden Arjuna hingga sang pangeran benar-benar sehat. Raden Arjuna pun berterima kasih dan mohon pamit hendak kembali ke Kesatrian Madukara. Resi Pamintajati mencegah dan berterus terang bahwa ia ingin melamar Raden Arjuna untuk menjadi suami Endang Pamegatsih. Raden Arjuna menjawab dirinya sudah memiliki banyak istri dan hanya bisa menjadikan Endang Pamegatsih sebagai istri paminggir yang tidak dibawa ke Kesatrian Madukara, melainkan tetap tinggal di Padepokan Argabinatur. Resi Pamintajati menjawab putrinya bersedia dan sejak awal sudah memutuskan demikian.

Raden Arjuna sendiri terkesan melihat Endang Pamegatsih yang sudah beberapa hari ini merawat dirinya dengan penuh kesabaran. Maka, ia pun bersedia mejadikan gadis itu sebagai istri paminggir. Resi Pamintajati gembira dan segera menikahkan mereka berdua secara sederhana.

Setelah dua bulan lamanya tinggal di Padepokan Argabinatur, tiba-tiba Raden Arjuna teringat pada Dewi Sulastri dan Niken Larasati yang saat ini usia kandungan mereka pasti sudah mencapai sembilan bulan dan tiba waktunya untuk melahirkan. Ia pun mohon pamit kepada Resi Pamintajati dan Endang Pamegatsih. Saat itu Endang Pamegatsih sedang hamil muda. Raden Arjuna berpesan kepada istri barunya tersebut, bahwa kelak jika melahirkan anak laki-laki, hendaknya diberi nama Bambang Pamegattresna.

Usai berpesan demikian, Raden Arjuna segera berangkat meninggalkan Padepokan Argabinatur menuju Kesatrian Madukara.

Resi Pamintajati.

PRABU SURYAASMARA MENYERANG KESATRIAN MADUKARA

Sudah dua bulan lamanya Prabu Suryaasmara menunggu kedatangan Patih Kalagambira membawa pulang Raden Arjuna, tetapi yang ditunggu tak juga kunjung tiba. Karena prihatin melihat rakyatnya semakin banyak yang jatuh sakit dan meninggal, ia pun berangkat sendiri memimpin pasukan Parangkencana untuk menyerang Kesatrian Madukara dan membawa paksa Raden Arjuna.

Begitu sampai di tujuan, Prabu Suryaasmara dan pasukannya segera berhadapan dengan bala tentara Kerajaan Amarta yang dipimpin Arya Wrekodara, Raden Gatutkaca, dan Patih Tambakganggeng. Pertempuran sengit pun terjadi. Sungguh kebetulan, Raden Arjuna yang dicari-cari juga telah tiba dan langsung terjun menghadapi Prabu Suryaasmara.

Prabu Suryaasmara lama-lama terdesak menghadapi kesaktian pihak lawan dan ia pun dapat diringkus oleh Raden Arjuna. Namun kemudian, gurunya yang bernama Resi Indrajala datang menyusul untuk memintakan pengampunan baginya.

Arya Wrekodara.

KELAHIRAN RADEN SUMITRA

Prabu Puntadewa bertanya mengapa Prabu Suryaasmara mengirim orang untuk menculik adiknya. Resi Indrajala pun menjelaskan bahwa Kerajaan Parangkencana saat ini sedang dilanda wabah penyakit dan menurut petunjuk dewa, hanya bisa diobati dengan pengorbanan darah Raden Arjuna. Itulah sebabnya, Prabu Suryaasmara mengirim Patih Kalagambira untuk membawa Raden Arjuna.

Raden Arjuna bercerita bahwa dirinya menolak jika harus disembelih dan darahnya ditumpahkan untuk membasahi bumi Parangkencana. Itulah sebabnya ia terpaksa membunuh Patih Kalagambira di tengah jalan. Namun, ia sendiri terluka parah dan baru bisa sembuh setelah dirawat Resi Pamintajati dan putrinya di Padepokan Argabinatur selama dua bulan.

Mendengar itu, Prabu Puntadewa menyatakan bersedia menggantikan Raden Arjuna untuk mengorbankan diri apabila hal ini dapat membebaskan Kerajaan Parangkencana dari wabah penyakit dan menyelamatkan nyawa rakyat di sana. Ia tidak peduli dirinya memiliki hubungan dengan Kerajaan Parangkencana atau tidak, karena baginya menolong orang tidak perlu membeda-bedakan ini dan itu. Mendengar kakak sulungnya berkata demikian, Raden Arjuna terharu dan ia pun menyatakan bersedia disembelih demi kebaikan Kerajaan Parangkencana.

Resi Indrajala berkata bahwa telah terjadi kesalahpahaman di sini. Petunjuk dewa yang ia terima bukanlah mengorbankan nyawa Raden Arjuna, tetapi hanya pengorbanan darah saja. Rupanya Patih Kalagambira telah salah memahami perintah sehingga berakibat pada kematiannya sendiri. Para Pandawa lega mendengar penjelasan Resi Indrajala dan segera membebaskan Prabu Suryaasmara.

Prabu Suryaasmara menyatakan berterima kasih atas kesediaan Raden Arjuna membantu kesulitan Kerajaan Parangkencana. Ia pun menyatakan diri mulai sekarang bersedia menjadi bawahan Kerajaan Amarta. Prabu Puntadewa menjawab tidak perlu demikian. Prabu Suryaasmara hendaknya menjadi kawan sederajat saja, tidak perlu menjadi bawahan segala.

Tiba-tiba Dewi Srikandi datang melapor bahwa Dewi Sulastri baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki. Para Pandawa gembira mendengarnya. Raden Arjuna pun memberi nama putranya itu, Raden Sumitra, yang bermakna “teman yang baik”. Maksudnya ialah sebagai pengingat, bahwa kelahiran bayi tersebut bersamaan dengan Prabu Suryaasmara berubah dari seorang musuh menjadi teman.

Prabu Puntadewa.

RADEN ARJUNA MENGORBANKAN DARAHNYA UNTUK KESEMBUHAN KERAJAAN PARANGKENCANA

Singkat cerita, Prabu Suryaasmara dan Resi Indrajala telah kembali ke Kerajaan Parangkencana bersama para Pandawa. Resi Indrajala lalu mengadakan upacara pengorbanan darah Raden Arjuna di alun alun. Setelah doa dan mantra dibacakan, Raden Arjuna pun mengiris lengannya sendiri. Darah mengucur membasahi bumi Kerajaan Parangkencana. Setelah dirasa cukup, Resi Indrajala lalu membalut luka kesatria Pandawa nomor tiga tersebut dan mengucapkan banyak terima kasih kepadanya.

Prabu Suryaasmara juga berterima kasih kepada Raden Arjuna dan para Pandawa lainnya. Ia berdoa semoga kelak memiliki anak perempuan agar bisa berjodoh dengan Raden Sumitra, yaitu putra Raden Arjuna yang baru lahir. Prabu Puntadewa dan adik-adiknya pun berharap semoga hal itu bisa terjadi.

Raden Arjuna.

NIKEN LARASATI MENJADI IBU UNTUK RADEN SUMITRA DAN RADEN BRATALARAS

Setelah menginap tiga hari di istana Parangkencana, para Pandawa mohon pamit kembali ke Kerajaan Amarta. Sesampainya di sana, mereka disambut Dewi Srikandi yang mengabarkan bahwa Niken Larasati juga baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki. Raden Arjuna sangat gembira dan memberi nama putranya itu, Raden Bratalaras. Nama “brata” artinya “tindakan luhur”, sedangkan “laras” maksudnya adalah “selaras”. Hal ini sebagai pengingat, bahwa kelahiran Raden Bratalaras bersamaan dengan Raden Arjuna melakukan tindakan luhur di Kerajaan Parangkencana yang selaras dengan kehendak dewa.

Dewi Srikandi juga menceritakan bahwa air susu Dewi Sulastri tidak keluar, sehingga Raden Sumitra selama tiga hari ini terserang penyakit kuning karena lapar. Untungnya, Niken Larasati telah melahirkan Raden Bratalaras dan air susunya juga lancar. Niken Larasati menyatakan bersedia menjadi ibu susu bagi Raden Sumitra. Dewi Sulastri sangat bahagia dan memohon Niken Larasati agar sudi menganggap Raden Sumitra sebagai putra kandung sendiri. Niken Larasati sama sekali tidak keberatan dan mengajak Dewi Sulastri untuk membesarkan putra mereka bersama-sama.

Karena menyusui dua bayi sekaligus, maka tersiarlah kabar bahwa Niken Larasati melahirkan dua orang anak, yaitu Raden Sumitra dan Raden Bratalaras.

Niken Larasati.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------




CATATAN : Menurut Serat Pustakaraja Purwa versi Ngasinan, diceritakan bahwa Prabu Suryaasmara berniat menumbalkan Raden Arjuna untuk menumbuhkan cinta di hati istrinya. Saya sengaja mengubah cerita penumbalan tersebut menjadi urusan wabah penyakit, bukan urusan rumah tangga. Selain itu, diceritakan pula dalam naskah tersebut bahwa pendeta yang menolong Raden Arjuna bernama Resi Nirmawacana dan putrinya bernama Endang Nirmalawati. Saya pun mengubahnya menjadi Resi Pamintajati dan Endang Pamegatsih, yang kelak melahirkan Bambang Pamegattresna. Mengapa demikian? Karena Endang Nirmalawati hanyalah tokoh figuran yang sekali tampil, sedangkan Bambang Pamegattresna kelak muncul di lakon Kikis Tunggarana. Saya berniat menciptakan benang merah agar lakon tersebut dapat terhubung dengan lakon di atas.

Kemudian untuk Raden Sumitra, menurut beberapa sumber adalah putra Niken Larasati, sedangkan saya mengikuti tulisan Sunardi DM, bahwa Raden Sumitra adalah putra Dewi Sulastri. Untuk menjembatani kedua versi tersebut, maka saya kisahkan bahwa Niken Larasati menjadi ibu susu bagi Raden Sumitra. Dengan demikian, Raden Sumitra memiliki dua orang ibu, yaitu Niken Larasati dan Dewi Sulastri. Supaya masuk akal, maka saya harus menceritakan pula bahwa di saat yang sama Niken Larasati juga melahirkan Raden Bratalaras.

Adapun dalam kitab Mahabharata, tokoh Sumitra bukanlah putra Arjuna, melainkan kusir kereta Abhimanyu yang gugur bersama sang majikan dalam Perang Bharatayudha. Rupa-rupanya para pujangga Jawa “menaikkan derajat” Sumitra bukan hanya sebagai pelayan, tetapi menjadi saudara Abimanyu pula.


Untuk kisah perkawinan Raden Arjuna dengan Niken Larasati dapat dibaca di sini

Untuk kisah perkawinan Raden Arjuna dengan Dewi Sulastri dapat dibaca di sini














Tidak ada komentar:

Posting Komentar